"I'm selfish,impatient and a little insecure. I make mistake, I am out of control and at times hard to handle. But if you can't handle me at my worst, then you sure as hell don't deserve me at my best." -Marilyn Monroe
Maaf, tapi benar apa yang saya rasakan saat ini telah dikatakan oleh marilyn monroe. Saya bukan berhenti mencintai dirimu, tapi saya juga memiliki keinginan untuk dicintai oleh mu.
Ya, hanya sedikit berharap. Semoga kalian semua dilimpahkan kebahagiaan dan tetap bisa tersenyum.
Die Dunkelheit des Himmels, kegelapan langit, karena kegelapanlah yang akan memperlihatkan setitik cahaya untuk menerangi jalan. semakin gelap tempat tersebut, akan semakin terlihat cahaya tersebut.
Selasa, 14 Februari 2017
Dicintai atau mencintai
Minggu, 12 Februari 2017
Langit
Hai langit...
Kenapa kamu menangis tak menentu seperti itu?
Kenapa kamu senang, sedih bergantian tak tentu waktu?
Langit, aku sudah tidak bersedih. Namun, kenapa kamu masih menangis?
Tapi, jika dengan tangisan mu dunia ini menjadi lebih baik tak apa.
Aku paham, karena dengan menangis bukan berarti kita kalah akan keadaan, namun kita menangis untuk meredakan beban pikiran saja.
Tapi, langit, aku boleh jujur?
Kemarin aku sedih, namun aku sudah tidak bisa menangis lagi..
Ada apa dengan mata dan hati ku?
Apakah memang sudah sepantasnya aku tidak perlu menangisi dia?
Tapi, langit... aku kemarin sedih, sampai kepalaku kosong tak bisa memikirkan apapun.
Langit, melihat mu menangis tak menentu waktu seperti itu, membuat ku ingin berkata "Terima kasih langit, kamu sudah mewakili aku untuk menangis", karena aku sudah tidak bisa menangis lagi untuk saat ini, rasaku ini sudah terasa hampa, hingga menangis saat sedih saja aku tak bisa.
Langit, tolong bawakan aku angin lain untuk mengajarkan aku bagaimana bahagia dan menangis kembali ya...
Terima kasih langit.
Sabtu, 04 Februari 2017
Hidup ini untuk siapa?
Pernah sekali waktu saya berdiam diri di kamar saya dan saya mendengar pikiran di dalam kepala saya yang mengatakan "sesungguhnya kamu hidup 5 tahun terakhir itu untuk siapa?".
Saya pun berpikir dan memutar semua memori dalam otak saya untuk 5 tahun yang lalu. Kalimat itu tak bisa saya jawab dengan mudah, alasannya mudah, karena 5 tahun ke belakang saya habiskan hanya untuk kesenangan semata tanpa memikirkan apa yang terjadi setelahnya. Saya sadar ketika sedikit banyak orang-orang disekeliling saya datang dengan label "Teman", namun pada akhirnya mereka bisa berjalan menjauh dari hidup saya. Mungkin, dulu dalam rentang 5 tahun itu, mereka melihat saya sebagai manusia yang bisa melakukan apapun untuk mereka, membantu mereka dan bahkan saya dapat mengesampingkan hidup saya demi mereka. Atau mungkin, belakangan ini saya yang mendorong mereka semua keluar dari hidup saya, karena beberapa masalah yang pernah saya alami setahun lalu atau mungkin karena masalah yang sudah lama saya bawa, namun saya sembunyikan ?
Kalau diperbolehkan membuat alasan lagi, saya tanpa tidak sadar menjaga jarak dengan sebagian orang bukan dengan alasan saya tidak sayang kepada mereka, namun saya sama sekali tidak mau membuat hidup mereka sulit jika tetap berteman baik dengan saya. Mungkin akan tumbuh beberapa pertanyaan? Mengapa seperti itu? Mungkinkan jika mereka tetap ingin berteman dengan saya, tanpa memikirkan dampak untuk mereka sendiri ? Ya memang, itu mungkin sekali. Namun, saya yang tidak tahan melihatnya.
Rasanya saya ingin sekali pergi jauh dari tempat saya saat ini, dengan membuat alasan yang terkadang tidak sama antara hati saya dan logika saya. Alasan saya ingin pergi adalah saya tidak ingin lagi menyakiti banyak pihak dengan kelakuan saya yang terkadang memang menyakitkan. Mungkin alasan saya menyakiti karena saya melindungi diri saya sendiri.
Ada beberapa teman yang selalu mengatakan
"kenapa kamu tidak memilih satu untuk menekani hidup kamu? Agar hidup kamu lebih bahagia?"
Dengan muka datar saya menjawab "memang selama ini saya tidak bahagia?"
"Kebahagiaan kamu itu hanya untuk membahagiakan orang lain, bukan untuk dirimu."
"Lalu bagaimana caranya bahagia?"
"Berhenti untuk membahagiakan orang lain, coba untuk membuat hidup mu yang terpenting"
"Walau harus menyakiti orang lain?"
"Bukan menyakiti orang lain. Bahagia dan sakit itu beda tipis, sesuai dengan persepsi orang tersebut. Kalau kamu membunuh orang lain demi kebahagiaan mu, itu namanya menyakiti. Jika tidak, semua baik-baik saja."
"Oke, aku renungkan dulu ya :)"
"Ayo, jangan direnungkan saja. Lakukan! Agar kamu bisa bahagia"
Ya, bahagia itu sebenarnya sederhana. Bahagia itu hanya dalam persepsi saja. Baik atau burukpun haya persepsi saja. Bahagia itu ketika, diri kita adalah tujuan utama dari semua itu.
Senin, 30 Januari 2017
Cerita 1 : Mei 2012
Mei 2012, pertama kalinya saya merasakan jatuh cinta akan sesuatu, cinta yang membuat saya melangkah untuk memasuki hidup ia.
Mei 2012, pertama kalinya saya melihat sebuah cerita yang dipentaskan diatas panggung auditorium di sebuah fakultas salah satu universitas yang ada di indonesia. Setelah melihat pementasan tersebut, bisa dikatakan saya benar-benar penasaran bagaimana membuat sebuah pertunjukan yang layak ditonton, bahkan membuat otak saya berpikir, bagaimana bisa ada manusia yang memerankan peran sebegitunya mengiris hati.
Pada bulan itu dan tahun itulah, berbagai cara saya lakukan untuk menyelidiki kelompok itu dan mencari jalan bagaimana cara untuk bergabung kedalam kelompok tersebut.
Ya, setelah bulan itu di tahun itu, pementasan itu selalu membayangi dan merubah sedikit pola pikir saya dan membuat saya mengejar sesuatu yang belum saya ketahui.
Sabtu, 28 Januari 2017
Sedikit Rahasia
Yaa, entah mengapa hal tersebut memang benar adanya. Karena, sesungguhnya saya merupakan seorang manusia yang penuh rahasia, bukan berarti kita tidak boleh memiliki rahasia, namun, terkadang untuk urusan "PERASAAN" lebih baik jangan dipendam sendiri. Ya, kalau perlu katakan kepada orang yang dituju tanpa harus merahasiakannya.
Kalau boleh jujur, mengatakan rahasia hati itu benar-benar sulit bahkan terlihat tidak mungkin untuk dilakukan, alasannya sederhana, mungkin orang yang kita ceritakan rahasia hati kita tidak merespon sesuai dugaan kita atau malahan sesuai dengan dugaan hati kita.
Saya akan bercerita sedikit mengenai pengalaman saya di tahun 2015 dan tahun 2016. Pada tahun tersebut anggaplah saya sedang menyukai seseorang bahkan dalam tahap mencintai dirinya, mungkin hanya saya yang merasa seperti itu, karena memang sepertinya orang tersebut hanya memandang saya sebagai angin lalu.
Karena, banyaknya rahasia yang saya pendam saat itu, membuat jalan otak saya tidak baik, sedikit marah banyak mengeluh terhadap orang tersebut. Sampai saya sempat berpikir untuk meninggalkan dia, namun yg terjadi, saya hanya memakan semua rasa sakit hati saya hingga saat ini. Ketakutan akan kehilangan dirinya semakin besar namun, saya diamkan saja.
Bagaimana tidak dibilang makan sakit hati saja, orang tersebut telah bersama dengan orang lain, namun, ia tetap baik terhadap saya bahkan terkadang ia selalu bersama saya, yaaa.... karena kami dalam satu lingkup pekerjaan yang sama. Namun, sedikit banyak dia tetap ada disamping saya dalam keadaan duka ataupun senang.
Saya berpikir bahwa kalau ia menganggap saya sebagai teman dekat, namun tak sedekat itu karena ia tidak pernah mengatakan kepada saya bahwa ia telah bersama yang lain.
Mungkin ya, sebagai seorang wanita saya membutuhkan sedikit penjelasan mengenai hubungannya dengan siapa ia menjalani hubungan. Alasannya mudah, kenapa saya ingin kejelasan dari dirinya, yaitu agar saya bisa memulai hidup baru tanpa memikirkannya.
Namun, apa yang terjadi, setelah berselang hampir 2 tahun setelah ia bersama pilihannya, ia pun mengakhiri hubungannya dengan pasangannya. Walau sebelum berakhir hubungan mereka saya pernah mengungkapkan perasaan saya kepadanya. Ia sempat berkata "kamu ingin saya menjadi pacar kamu?", pada saat itu yang saya pikirkan bukan untuk menjadi pacarnya namun hanya ingin dia tahu, bahwa saya ada disini untuknya. Saya menjawab pertanyaan ia dengan kalimat "tidak, saya tidak ingin menjadi pacarmu. Saya masih nyaman dengan hubungan kita sekarang. Karena, jujur saya belum siap untuk menjalin hubungan yg spesial dengan mu saat ini. Saya takut kehilangan diri mu sebagai teman ataupun sahabat."
Kala itu dia hanya menatap saya dan berkata "sudah lama sekali saya tidak mendengar isi hatimu yang sesungguhnya. Selamat datang kembali, sebagai seseorang yang mengatakan isi hatinya kepada saya. Saya hanya bisa bilang : ya beginilah jika menyukai saya. Terima kasih sudah bersama saya selama ini. Tapi, saya tidak akan megusir kamu dalam hidup saya, karena saya tidak bisa."
Setelah percakapan lama namun singkat itu, saya sejujurnya tidak mengerti apa maksud dari perkataannya. Karena saya terlalu takut mengambil kesimpulan. Dan selang beberapa bulan setelahnya ia mengakhiri hubungan dirinya dengan orang yang ia pilih saat itu. Dan apa yang terjadi pada saya selanjutnya adalah saya hanya tetap ada disampingnya dan menemani dia apapun keadaannya. Saya berperilaku sebagai temannya, atau sahabatnya yang kadang kala marah, karena ia sebegitunya terlihat tidak peduli kepada dirinya sendiri.
Sampai saat ini, yang saya pelajari adalah lebih baik mengutarakan apa yang dirasakan, bukan untuk menuntut bersama dirinya, namun agar jalan kerja otak saya lebih baik dan mengurangi penyesalan yang kadang menghampiri pikiran saya. Ya, berbagi rahasia perasaan kita itu terkadang membuat perasaan lebih ringan untuk diri sendiri, tapi terkadang akan membebani yang diceritakan. Ya, bukannya jahat, tapi lebih kepada melindungi diri sendiri.
Ya, beginilah saya terlalu banyak alasan untuk melindungi diri saya sendiri, namun banyak merasakan sakit hati. Alasannya mudah, karena selama ini yang saya lihat hanyalah dia. Tanpa bisa melihat perjuangan orang lain untuk diri saya.
Rabu, 25 Januari 2017
Malam berganti Pagi
Gelap dan dinginnya malam telah digantikan oleh terang dan hangatnya mentari pagi.
Malam telah menjadi saksi dimana dua manusia saling bercerita mengenai pahitnya hidup dan masalah yang menerpa kehidupannya masing-masing.
Kedua manusia ini bukanlah sepasang kekasih, melainkan teman yang sedang membutuhkan tempat untuk mencurahkan masalah pribadi mereka.
Kedua manusia ini mencoba mengupas masalah dari sudut pandang yang berbeda. Mungkin hanya untuk mengeluarkan pikiran yang penat dan ingin didengar, bukan berarti mereka tidak mengetahui jawaban dari masalah mereka. Namun, hanya untuk memastikan dan mendapatkan dukungan dari jawaban yang akan dipilih oleh keduanya.
Masalah mereka berbeda jauh, namun tak jauh dari masalah "PERASAAN". banyak yang bilang, perasaan tidak dapat dilihat namun dapat dirasakan dan sesekali menjadi pemicu bagi jalan kerja otak seseorang.
Namun, karena keramahan malam masalah yang ditanggung oleh mereka dapat didiskusikan sesuai dengan keadaan mereka, hingga mentari mulai bersinar dan pagi datang membawa jawaban yang mungkin baik.
Jumat, 20 Januari 2017
Hati tak berkata
Disini dan disana.
Melihat dan tak melihat.
Hati berkata ya dan tidak.
Hati memilih pergi dan tinggal.
Namun,logika berkata tidak.
Namun,Hati tetap bimbang....
Jarak antara diriku dan dirimu,
seakan semu membohongi semua.
Apakah ini kebohongan atau kejujuran?
Namun dari semua itu tak ada pilihan dan hanya bisa menjalankan.
Sampai kapanpun hati tak dapat menjawab.
Mungkin hingga waktu terus berjalan dan tetap diam.