Tampilkan postingan dengan label life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label life. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Juni 2017

Y to the O to the double S and I

Dirimu datang tiba-tiba !
Memberikan kejutan yang menawan dalam kelamnya hidup ku saat itu.
Dirimu telah mengajarkan aku tertawa kembali, melihat cerahnya dunia dan hangatnya kasih sayang.
Dengan kenekatan dan manisnya kata-kata mu saat itu,membuat ku ingin berjalan bersama mu.
Dengan segala perbedaan yang ada pada diri kita,
Perbedaan yang selalu menjadi masalah,
Agama, suku dan latar belakang keluarga yang yang sangat jauh.

Aku sempat berpikir apakah dirimu adalah orang yang akan mengisi hidup ku sampai tutupnya usia ku?
Namun, bayangan gelap dari masa lalu ku masih menghantui ku.
Dan bayangan itu pun mungkin juga menghantui mu.
Aku mencoba untuk menerima dirimu dengan cara ku,
Mungkin kamu sudah menerima diriku dengan segala kekurangan ku,
Namun ternyata alam semesta berkata lain.

Awal perjumpaan kita sangat manis,
Tidak dapat dikatakan dengan kata kata.
Kamu meyakinkan aku dengan kata dan tingkah mu,
Kamu berlaku sangat menyayangi dengan tulus,
Kamu mengisi hari ku dengan tawa canda,
Kamu mengajar kan ku untuk tulus menerima segala hal,
Kamu mengajarkan ku untuk bangkit lagi,
Perbedaan yang kita sadari, kita lupakan dalam sekejap.
Namun, ternyata alam semesta mendengarkan do'a ku kembali
Mungkin alam semesta juga mendengarkan do'a mu lagi.

Alam semesta mengirimkan dirimu seorang yang lain yang lebih pas untuk mu,
Bukan diri ku yang terasa memiliki sejuta perbedaan dengan diri mu.
Jujur, aku sedikit kecewa karena ketika kamu tau, kamu menutupi hal tersebut,
Namun aku sadar satu hal, bahwa aku pernah meminta juga pada alam semesta,
Bahwa jika dirimu bukan untuk ku, segeralah lepaskan ia dengan bahagia, kirimilah ia pasangan yang cocok untuknya.
Dan ternyata saat ini aku bisa tersenyum dan berhasil menulis tulisan yang susah ku ungkapkan.
Aku sedih, namun aku bahagia untuk mu.


Terima kasih untuk mu, karena telah mengulurkan tangan mu pada ku.
Terima kasih atas segala perlakuan mu untuk ku.
Terima kasih karena telah mengembalikan warna hidup ku.

Terima kasih alam semesta karena telah mengingatkan ku, bahwa dunia belum berakhir lewat orang yang ku lihat cukup tulus menyayangiku,
Terima kasih karena telah mengirim seseorang yang mewarnai hidupku walau sekejap.
Terima kasih alam semesta karena engkau sayang kepada kami.

Aku tau "every hello, can end up with good bye"

Bahagialah selalu dirimu disana, dan terima kasih karena sudah pernah berjalan disebelah ku dan mengajarkan banyak hal untuk ku.


Selasa, 30 Mei 2017

Awal dari perjalanan

Awal april merupakan salah satu bagian terburuk yang terjadi lagi pada hidup saya. Saya kehilangan banyak hal yang saya perjuangkan dan saya sayangi. April tahun 2017 merupakan bulan yang menyedihkan dan menyiksa untuk saya, tahun 2017 saya berganti umur dengan kesedihan yang mendalam hingga saya lebih banyak bengong meratapi apa yang terjadi, namun juga membuat saya berjuang ikhlas atas apa yang terjadi. 

Awal bulan april 2017, merupakan bulan dimana saya merasakan kembali patah hati untuk seseorang yang saya anggap partner kerja terbaik saya, bahkan saya berpikir bahwa dia akan menjadi teman hidup saya di tempat kemarin saya berjuang. Namun, ternyata alam semesta berkata lain, kami dipisahkan oleh persoalan yang entah karena apa dan membuat saya enggan untu menghubungi orang tersebut. Kenangan yang kami buat selama hampir 5 tahun perjalanan pertemanan kami menjadi sesuatu yang hanya khayalan di mata saya, namun terasa nyata. Saya bilang semua itu adalah khayalan karena ada seorang yang juga ada di lingkungan kami, menanyakan kepadanya mengenai beberapa kelakuan dirinya terhadap saya dan kalian tahu, ia menyangkal itu semua dihadapan seseorang tersebut dan ia tidak membantah itu semua ketika seseorang itu membuka kisah kami di depan saya beserta teman saya lainya.

Bagaimana perasaan saya tidak campur aduk mengenai pengakuan yang diakui darinya yang disampaikan oleh orang lain mengenai kami, ia pernah mengatakan bahwa ia peduli terhadap saya dan peduli yang ia tujukan kepada saya adalah nyata, namun ketika dihadapan 9 orang kala awal april itu, yang saya ingat dia hanya diam dan mengangguk seakan mengiyakan apa yang dikatakan seseorang itu. Seketika itu juga perasaan saya remuk seperti dihantam oleh alat penghancur yang sangat luar biasa hingga perasaan saya itu menjadi bongkahan kosong dengan banyaknya debu di sana. Pagi setelah pertemuan kami di awal april itu, saya merekap ulang apa yang telah saya dan partner saya pernah alami bersama, bagaimana dan sejauh apa saya berjuang untuk "kami" dan tempat usaha kami, sebanyak apa dan sesabar apa, saya menemani ia berjalan bahkan ketika ia telah memilih pendamping hidupnya saat itu, saya melakukan itu semua tanpa memikirkan dampak terhadap perasaan saya, saya hanya ingin mendukungnya dan melihat ia berjalan menuju puncak kejayaan kehidupannya. Bohong, jika saya tidak pernah memikirkan untuk menjadi pendamping hidupnya hingga usia menutup kisah kami, namun saya tidak pernah mau merusak apa yang telah kami jalani, saya tidak pernah mau menanyakan akan kah hubungan kami akan serius sampai menjadi pasangan resmi dihadapan alam semesta ataupun hukum.

Selama 3 tahun ke belakang, saya sangat ikhlas mendampingi dirinya tanpa meminta lebih kepadanya, kami memiliki mimpi yang sama atau mungkin mimpi dia menjadi mimpi saya juga, tapi sesungguhnya mimpi ia juga keinginan saya. Bagaimana tidak bahwa mimpi kami sama untuk membuat bisnis property panggung teater bersama dengan segala macam mimpi dan keinginan yang menjadi bahan perbincangan kami, mencari cara bagaimana bisnis kami ini bisa berjalan dengan baik, bersama teman-teman kami yang lain. Masih banyak sekali janji diantara kami berdua yang mungkin hanya kami dan tuhan yang tau, terlalu banyak janji pahit dan manis yang terlontar diantara kami berdua, tapi saat ini dan seterusnya saya hanya ingin menyimpan sebagian janji saya kepada dirinya dan mudah-mudahan ia masih ingat dengan janjinya kepada saya. Tapi, yang saya inginkan untuk saat ini dan mungkin kedepannya, saya tidak ingin berhubungan baik dengannya, karena saya takut tergoda untuk mendukung ia kembali.

Alasan saya menulis ini semua karena, saya ingin mendukung seseorang yang baru saja hadir dalam hidup saya, saya tidak ingin dibebani oleh masa lalu kami yang mungkin menjadi masa depan kami yang telah dihancurkan sendiri oleh dia. Saya akan memenuhi janji saya kepadanya ketika saya sudah mampu menatapnya sebagai teman biasa saya, tanpa perasaan lebih untuknya. Maaf, saya akan berhenti menatap dan mendukung dia dalam hidup saya. Maaf, mungkin saya tidak dapat menuhi janji saya kepada dirimu itu, karena saat saya memposting tulisan ini, saya sudah siap untuk memberikan dukungan saya untuk seseorang yang baru datang di dalam hidup saya, seseorang yang telah merubah keabu-abuan yang nyaris hitam menjadi sedikit demi sedikit penuh warna kembali.

Untuk kamu yang telah saya temani selama 3 tahun ini, selamat tinggal untuk semua kenangan kita, saya mohon kepada mu untuk tidak meminta kembali dukungan yang pernah saya berikan dan kamu buang begitu saja dengan caramu, walau belum tentu kamu akan memintanya kembali karena saya ingat kalimat mu "saya akan baik-baik saja tanpa dirimu.", walau saya masih terbayang akan kehadiran mu saat ini, saya akan berjuang untuk melangkah maju untuk awal yang baru untuk diri saya. Terima kasih atas segala pelajaran yang telah kamu tulis dalam hidup saya.

Untuk kamu yang baru datang dalam hidup saya, selamat datang dalam hidup saya, kamu patut saya perjuangkan walau perbedaan kita sangat besar. Saya akan mendukung kamu dan saya akan berjalan disamping mu agar kamu bisa menggapai mimpi mu. Terima kasih karena telah datang disaat tergelap hidup saya saat ini, terima kasih sudah mengulurkan tangan mu untuk membantu saya bangkit. Saya akan belajar untuk berjalan bersama mu.

Terima kasih semesta karena telah memberikan pengganti partner saya.

Salam sejahtera untuk kalian semua.


Minggu, 26 Februari 2017

Datang, pergi dan datang

Tanpa disadari sudah banyak manusia yang datang dan pergi dalam kehidupan saya, dari hanya kenal menjadi teman, kemudian menjadi seseorang yang tidak saya kenal.
Banyak orang yang datang dan pergi sesuka hati ia didalam kehidupan saya. Namun, ada juga yang datang dan tidak pernah pergi sampai detik ini. Walaupun terkadang saya yang menghilang dari dunia mereka tetapi mereka tetap ada untuk saya untuk sampai saat ini. Saya memandang teman seperti teman tersebut memandang diri saya. Ketika teman itu memilih hidupnya tanpa saya, saya pun tidak akan memaksa mereka untuk hidup didalam kehidupan saya.

Seorang teman pernah berkata "kamu memang mencintai banyak orang, kalau pun ada satu orang yang lebih kamu cintai, kamu tetap dengan prinsip mu. Kamu lebih mencintai dirimu sendiri daripada mencintai diri orang lain. Baik itu sebagai teman ataupun lebih dari teman".
Terkadang saya ingin menghilangkan pikiran itu, namun setelah sekian lama saya hidup, sebanyak itu juga yang telah mengkhianati kepercayaan saya terhadap mereka. Mungkin dulu, saya akan memaklumi hal tersebut, namun saat ini saya lebih memilih untuk melindungi diri saya.
Saya pernah mengatakan " i love you, but i love me more". Ketika saya disakiti satu kali, saya akan memaafkannya, namun jika untuk kedua dan ketiga kalinya, saya hanya bisa mengatakan "maaf, saya sudah tidak bisa memberikan kepercayaan saya kepada anda. Maaf, saya sudah tidak ingin merendahkan diri saya hanya untuk anda sakiti. Karena telah berulang dan anda tidak percaya kepada saya. Saya kuat untuk tidak memikirkan rasa sakit itu, namun rasa sakit itu selalu menghantui. Maaf saya lebih memilih untuk tumbuh dan berkembang, bukan diam menunggu kalian. Maafkan saya." Dalam hal ini, saya bukannya tidak pernah menyakiti teman saya, saya bukanlah manusia suci yang tidak memiliki kesalahan kepada mereka. Namun, jika memang saya sadar akan kesalahan saya, saya akan dengan senang hati meminta maaf, namun, apabila saya tidak mengetahui apa salah saya, mungkin lebih baik anda mengatakannya kepada saya, apa salah saya, dan jika itu memang salah saya dan perbuatan saya, saya akan meminta maaf kepada anda.

Dari sedikit banyak pengalaman saya hidup, yang saya pelajari adalah, kamu boleh meminta maaf dan mengakui kesalahan apabila kamu memang melakukan hal yang keliru, namun apabila kamu tidak melakukannya, jangan pernah mengakui, karena itu hanya akan membuat orang yang membuat mu dituduh senang. Ya, memang egois, namun itu adalah bentuk pembelaan diri.

Datang atau pergi adalah pilihan dari setiap manusia, jadi lebih baik menerima yang datang dan merelakan yang pergi, seringkali merelakan sesuatu itu sulit, namun itu adalah sebuah usaha untuk memperbaiki diri, mungkin memang sulit, namun apa salahnya untuk mencoba merelakan yang sudah pergi.

Salam kasih untuk kalian semua. ♡♡♡


Selasa, 14 Februari 2017

Dicintai atau mencintai

"I'm selfish,impatient and a little insecure. I make mistake, I am out of control and at times hard to handle. But if you can't handle me at my worst, then you sure as hell don't deserve me at my best."  -Marilyn Monroe


Maaf, tapi benar apa yang saya rasakan saat ini telah dikatakan oleh marilyn monroe. Saya bukan berhenti mencintai dirimu, tapi saya juga memiliki keinginan untuk dicintai oleh mu.

Ya, hanya sedikit berharap. Semoga kalian semua dilimpahkan kebahagiaan dan tetap bisa tersenyum.


Sabtu, 04 Februari 2017

Hidup ini untuk siapa?

Pernah sekali waktu saya berdiam diri di kamar saya dan saya mendengar pikiran di dalam kepala saya yang mengatakan "sesungguhnya kamu hidup 5 tahun terakhir itu untuk siapa?".

Saya pun berpikir dan memutar semua memori dalam otak saya untuk 5 tahun yang lalu. Kalimat itu tak bisa saya jawab dengan mudah, alasannya mudah, karena 5 tahun ke belakang saya habiskan hanya untuk kesenangan semata tanpa memikirkan apa yang terjadi setelahnya. Saya sadar ketika sedikit banyak orang-orang disekeliling saya datang dengan label "Teman", namun pada akhirnya mereka bisa berjalan menjauh dari hidup saya. Mungkin, dulu dalam rentang 5 tahun itu, mereka melihat saya sebagai manusia yang bisa melakukan apapun untuk mereka, membantu mereka dan bahkan saya dapat mengesampingkan hidup saya demi mereka. Atau mungkin, belakangan ini saya yang mendorong mereka semua keluar dari hidup saya, karena beberapa masalah yang pernah saya alami setahun lalu atau mungkin karena masalah yang sudah lama saya bawa, namun saya sembunyikan ?

Kalau diperbolehkan membuat alasan lagi, saya tanpa tidak sadar menjaga jarak dengan sebagian orang bukan dengan alasan saya tidak sayang kepada mereka, namun saya sama sekali tidak mau membuat hidup mereka sulit jika tetap berteman baik dengan saya. Mungkin akan tumbuh beberapa pertanyaan? Mengapa seperti itu? Mungkinkan jika mereka tetap ingin berteman dengan saya, tanpa memikirkan dampak untuk mereka sendiri ? Ya memang, itu mungkin sekali. Namun, saya yang tidak tahan melihatnya.

Rasanya saya ingin sekali pergi jauh dari tempat saya saat ini, dengan membuat alasan yang terkadang tidak sama antara hati saya dan logika saya. Alasan saya ingin pergi adalah saya tidak ingin lagi menyakiti banyak pihak dengan kelakuan saya yang terkadang memang menyakitkan. Mungkin alasan saya menyakiti karena saya melindungi diri saya sendiri.

Ada beberapa teman yang selalu mengatakan
"kenapa kamu tidak memilih satu untuk menekani hidup kamu? Agar hidup kamu lebih bahagia?"
Dengan muka datar saya menjawab "memang selama ini saya tidak bahagia?"
"Kebahagiaan kamu itu hanya untuk membahagiakan orang lain, bukan untuk dirimu."
"Lalu bagaimana caranya bahagia?"
"Berhenti untuk membahagiakan orang lain, coba untuk membuat hidup mu yang terpenting"
"Walau harus menyakiti orang lain?"
"Bukan menyakiti orang lain. Bahagia dan sakit itu beda tipis, sesuai dengan persepsi orang tersebut. Kalau kamu membunuh orang lain demi kebahagiaan mu, itu namanya menyakiti. Jika tidak, semua baik-baik saja."
"Oke, aku renungkan dulu ya :)"
"Ayo, jangan direnungkan saja. Lakukan! Agar kamu bisa bahagia"

Ya, bahagia itu sebenarnya sederhana. Bahagia itu hanya dalam persepsi saja. Baik atau burukpun haya persepsi saja. Bahagia itu ketika, diri kita adalah tujuan utama dari semua itu.


Senin, 30 Januari 2017

Cerita 1 : Mei 2012

Mei 2012, pertama kalinya saya merasakan jatuh cinta akan sesuatu, cinta yang membuat saya melangkah untuk memasuki hidup ia.

Mei 2012, pertama kalinya saya melihat sebuah cerita yang dipentaskan diatas panggung auditorium di sebuah fakultas salah satu universitas yang ada di indonesia. Setelah melihat pementasan tersebut, bisa dikatakan saya benar-benar penasaran bagaimana membuat sebuah pertunjukan yang layak ditonton, bahkan membuat otak saya berpikir, bagaimana bisa ada manusia yang memerankan peran sebegitunya mengiris hati.

Pada bulan itu dan tahun itulah, berbagai cara saya lakukan untuk menyelidiki kelompok itu dan mencari jalan bagaimana cara untuk bergabung kedalam kelompok tersebut.

Ya, setelah bulan itu di tahun itu, pementasan itu selalu membayangi dan merubah sedikit pola pikir saya dan membuat saya mengejar sesuatu yang belum saya ketahui.


Sabtu, 28 Januari 2017

Sedikit Rahasia

Sedikit rahasia membuat kita sakit.
Yaa, entah mengapa hal tersebut memang benar adanya. Karena, sesungguhnya saya merupakan seorang manusia yang penuh rahasia, bukan berarti kita tidak boleh memiliki rahasia, namun, terkadang untuk urusan "PERASAAN" lebih baik jangan dipendam sendiri. Ya, kalau perlu katakan kepada orang yang dituju tanpa harus merahasiakannya.

Kalau boleh jujur, mengatakan rahasia hati itu benar-benar sulit bahkan terlihat tidak mungkin untuk dilakukan, alasannya sederhana, mungkin orang yang kita ceritakan rahasia hati kita tidak merespon sesuai dugaan kita atau malahan sesuai dengan dugaan hati kita.

Saya akan bercerita sedikit mengenai pengalaman saya di tahun 2015 dan tahun 2016. Pada tahun tersebut anggaplah saya sedang menyukai seseorang bahkan dalam tahap mencintai dirinya, mungkin hanya saya yang merasa seperti itu, karena memang sepertinya orang tersebut hanya memandang saya sebagai angin lalu.
Karena, banyaknya rahasia yang saya pendam saat itu, membuat jalan otak saya tidak baik, sedikit marah banyak mengeluh terhadap orang tersebut. Sampai saya sempat berpikir untuk meninggalkan dia, namun yg terjadi, saya hanya memakan semua rasa sakit hati saya hingga saat ini. Ketakutan akan kehilangan dirinya semakin besar namun, saya diamkan saja.

Bagaimana tidak dibilang makan sakit hati saja, orang tersebut telah bersama dengan orang lain, namun, ia tetap baik terhadap saya bahkan terkadang ia selalu bersama saya, yaaa.... karena kami dalam satu lingkup pekerjaan yang sama. Namun, sedikit banyak dia tetap ada disamping saya dalam keadaan duka ataupun senang.
Saya berpikir bahwa kalau ia menganggap saya sebagai teman dekat, namun tak sedekat itu karena ia tidak pernah mengatakan kepada saya bahwa ia telah bersama yang lain.
Mungkin ya, sebagai seorang wanita saya membutuhkan sedikit penjelasan mengenai hubungannya dengan siapa ia menjalani hubungan. Alasannya mudah, kenapa saya ingin kejelasan dari dirinya, yaitu agar saya bisa memulai hidup baru tanpa memikirkannya.

Namun, apa yang terjadi, setelah berselang hampir 2 tahun setelah ia bersama pilihannya, ia pun mengakhiri hubungannya dengan pasangannya. Walau sebelum berakhir hubungan mereka saya pernah mengungkapkan perasaan saya kepadanya. Ia sempat berkata "kamu ingin saya menjadi pacar kamu?", pada saat itu yang saya pikirkan bukan untuk menjadi pacarnya namun hanya ingin dia tahu, bahwa saya ada disini untuknya. Saya menjawab pertanyaan ia dengan kalimat "tidak, saya tidak ingin menjadi pacarmu. Saya masih nyaman dengan hubungan kita sekarang. Karena, jujur saya belum siap untuk menjalin hubungan yg spesial dengan mu saat ini. Saya takut kehilangan diri mu sebagai teman ataupun sahabat."
Kala itu dia hanya menatap saya dan berkata "sudah lama sekali saya tidak mendengar isi hatimu yang sesungguhnya. Selamat datang kembali, sebagai seseorang yang mengatakan isi hatinya kepada saya. Saya hanya bisa bilang : ya beginilah jika menyukai saya. Terima kasih sudah bersama saya selama ini. Tapi, saya tidak akan megusir kamu dalam hidup saya, karena saya tidak bisa."

Setelah percakapan lama namun singkat itu, saya sejujurnya tidak mengerti apa maksud dari perkataannya. Karena saya terlalu takut mengambil kesimpulan. Dan selang beberapa bulan setelahnya ia mengakhiri hubungan dirinya dengan orang yang ia pilih saat itu. Dan apa yang terjadi pada saya selanjutnya adalah saya hanya tetap ada disampingnya dan menemani dia apapun keadaannya. Saya berperilaku sebagai temannya, atau sahabatnya yang kadang kala marah, karena ia sebegitunya terlihat tidak peduli kepada dirinya sendiri.

Sampai saat ini, yang saya pelajari adalah lebih baik mengutarakan apa yang dirasakan, bukan untuk menuntut bersama dirinya, namun agar jalan kerja otak saya lebih baik dan mengurangi penyesalan yang kadang menghampiri pikiran saya. Ya, berbagi rahasia perasaan kita itu terkadang membuat perasaan lebih ringan untuk diri sendiri, tapi terkadang akan membebani yang diceritakan. Ya, bukannya jahat, tapi lebih kepada melindungi diri sendiri.

Ya, beginilah saya terlalu banyak alasan untuk melindungi diri saya sendiri, namun banyak merasakan sakit hati. Alasannya mudah, karena selama ini yang saya lihat hanyalah dia. Tanpa bisa melihat perjuangan orang lain untuk diri saya.